Blogroll

Kamis, 29 Desember 2016

Musyawarah Daerah II Wahdah Islamiyah Majene

Musyawarah daerah ke-2 DPD Wahdah Islamiyah Majene dilaksanakan pada hari ahad, 13 November 2016. Bertempat di Ruang Pola Kantor Bupati Majene, acara dibuka secara resmi oleh Bupati Majene Bapak DR. H. Fahmi Massiara, MH. Acara ini dihadiri seluruh pengurus ikhwa dan akhwat serta unsur pengurus DPW Wahdah Islamiyah Sulbar. Acara berlangsung mulai pukul 09.00 hingga pukul 17.00. Acara ini merupakan kegiatan besar DPD WI Majene untuk pertanggujawaban kepengurusan dan pemilihan ketua DPD yang baru. Ketua DPD WI Majene yang terpilih berdasarkan hasil musyawarah adalah ustad Umar Masyhude, S.Pd.I untuk periode 1438-1443 H.

Kamis, 12 Mei 2016

Seminar Muslimah “Sejuta Cinta Untuk Indonesia” Love Is Wonderful, Giving Is Powerful



Hadirilah….!!!!!
Seminar Muslimah “Sejuta Cinta Untuk Indonesia” Love Is Wonderful, Giving Is Powerful Keynote Speaker     : Dra.Hj.Fatmawati Fahmi,MH
(Wakil Ketua Tim Penggerak PKK Kab.Majene)
bersama
Ustadzah Luthfah Djabrud, S.Si
(Daiyah dan Trainer Lembaga muslimah Pusat Wahdah
Islamiyah)
Insyaa Allah Dilaksanakan Pada   : Hari/Tanggal : Ahad, 22 Sya’ban 1437 H / 29 Mei 2016 M Tempat     : Gedung Boyang Assamalewuang Majene
Kontribusi Mahasiswa Rp. 25.000,-, Umum : Rp. 30.000,-
Fasilitas  : Ilmu, Snack, Notebook, Sertifikat, Doorprize*
*untuk 100 pendaftar pertama
SEGERA Daftarkan Diri, Keluarga, Teman, dan Sanak Saudara Anda
Pesan Tiket Di                               : 0851 4565 1501

Sabtu, 07 Mei 2016

Rumahku Surgaku

Oleh Ustadz Maulana La Eda, Lc.

Setiap kita pasti mengangankan terwujudnya rasa bahagia, dan nuansa serba indah dalam bingkai kehidupan rumah tangga, jauh sebelum layar biduk pernikahan yang dicitakan terbentang. Semuanya terbayang syahdu hanyutkan angan dalam aneka dunia fantasi, seakan biduk rumah tangga tersebut akan terus melanggeng indah tanpa adanya hadangan badai dan gelombang kehidupan. Hanya saja banyak di antara kita yang masih enggan untuk bercita-cita meneladani potret rumah tangga Sang Teladan Muhammad shallallahu’alaihi wasallam bahkan kita sering kali tak menghiraukan faktor-faktor penting terwujudnya rumah tangga bahagia dan harmonis. Sehingga tak jarang, rumah yang seharusnya menjadi surga dan taman-taman syahdu bagi penghuninya seketika menjelma menjadi neraka dunia yang penuh petaka dan kesengsaraan.

Oleh karena itu demi mewujudkan keluarga yang mawaddah wa rahmah serta merealisasikan tujuan utama terbangunnya suatu rumah tangga Allah ta’ala telah menegaskan beberapa faktornya dalam Al-Quran, sebagaimana dalam beberapa firman-Nya, di antaranya: “Dan di antara tanda-tanda kebesaran-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa nyaman kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu mawadah dan rahmah”. (QS Ar-Rum: 21).
Juga firman-Nya: “Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka.” (QS Al-Baqarah: 187)
Dua ayat ini mengisyaratkan dua poin penting tentang fondasi dasar terbangunnya rumah tangga yang bahagia yaitu:
  1. Saling memberikan sikap kenyamanan (sakinah), cinta (mawaddah) dan kasih sayang (rahmah)
  2. Saling menunjukkan adanya perhatian yang lebih.
Bahkan Nabi shallallahu’alaihi wasallam sering kali menekankan hal ini lewat sabda dan sikap teladan yang dicontohkannya dalam hidup berumah tangga. Rumah tangga beliau yang merupakan teladan utama bagi setiap rumah tangga muslim, sangat menggambarkan kondisi mawaddah dan rahmah ini karena di dalamnya terdapat banyak faktor yang bisa mewujudkannya, di antara yang terpenting adalah:
Pertama: Agama dan Ibadah Sebagai Fondasi Utama Rumah Tangga
Banyak orang yang membangun keluarga dan rumah tangga di atas fondasi agama yang rapuh dan mudah roboh lantaran hanya bermodalkan materi sehingga kebahagiaan yang mereka cari tidak kunjung didapat bahkan materi tersebut kadang hanya menambah kelamnya suasana rumah tangga. Atau bila materi tersebut mendatangkan bahagia dan kenyamanan, maka ia hanya bersifat lahiriyah, semu, dan tidak permanen, bukan kebahagiaan hakiki yang menghunjam dalam jiwa dan rohani. Sebab bahagia itu tidak bisa diukur dari kemegahan lahir dan berlimpahnya materi, namun diukur oleh ketenangan jiwa dan kepuasan rohani walaupun ada kekurangan dari segi materi.

Sehingga demi mewujudkan suasana “Baiti Jannati; Rumahku Surgaku”, islam telah memberikan trik pertama dan utama dalam memilih pasangan hidup sebagaimana dalam sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam: “Wanita umumnya dinikahi karena 4 hal: hartanya, nasabnya, kecantikannya, dan agamanya. Karena itu, pilihlah yang memiliki agama, kalian akan beruntung.” (HR Bukhari: 5090 dan Muslim: 1466 ).

Keberuntungan yang didapat lewat kriteria pasutri yang agamis ini tentunya tidak hanya tercurah dalam bentuk sakinah, mawaddah, wa rahmah di kehidupan fana ini, namun lebih dari itu akan terus langgeng dan kekal hingga dipertemukan kembali di surga-Nya dalam anugerah “masuk surga sekeluarga”: “Mereka dan istri-istri mereka berada dalam tempat yang teduh (surga), bertelekan di atas dipan-dipan”. (QS Yasin: 56)

Kedua: Akhlaqul-Karimah dan Pergaulan Yang Baik Sebagai Dinding Kokoh Terbinanya Rumah Tangga.
Sering kali cinta, kecantikan atau ketampanan bukanlah penopang utama dari terbangunnya sebuah rumah tangga dan ikatan pernikahan. Betapa banyak pasutri sukses menata bangunan rumah tangga mereka tanpa diawali oleh rasa cinta, atau takjuban terhadap rupa yang tampan atau paras yang cantik. Hal ini membuktikan bahwa penopang utama kokohnya rumah tangga setelah kriteria iman dan agama adalah kemuliaan akhlak, tutur kata yang lembut, dan indahnya pergaulan antara pasutri. Perkara inilah yang mengekalkan romantisme pernikahan, sebab dalam banyak fakta pernikahan yang terbangun di atas cinta (pacaran misalnya), atau ketampanan dan kecantikan; juga hancur berantakan lantaran cinta tersebut tak mampu menanamkan akhlak, dan pergaulan baik. Sebaliknya pergaulan dan akhlak baik serta lembutnya tutur kata sedikit demi sedikit akan menanamkan mawaddah dan rahmah tanpa memandang ketampanan dan kecantikan. Kriteria inilah yang ditekankan oleh Allah ta’ala dalam firman-Nya: “Dan bergaullah dengan mereka (istri-istrimu) secara baik”. (QS.An-Nisa’ : 19). Juga firman-Nya: “Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya (suaminya) menurut cara yang makruf”. (QS. Al-Baqarah : 228).

Sikap ini jugalah yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dalam membina rumah tangga beliau bersama istri-istri beliau. Tutur kata beliau yang selalu santun, tak menampakkan rasa kesal apalagi sikap kasar, membuat rumah tangga beliau indah dan bahagia. Bahkan disela-sela kesibukan beliau dalam men-tarbiyah para sahabat, dan memonitor urusan negeri islam, beliau tak segan-segan membantu pekerjaan rumah istri-istri beliau, sebagaimana yang dikisahkan Aisyah radhiyallahu’anha ketika ditanya tentang aktifitas Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam ketika bersama istrinya, beliau menjawab: “Beliau selalu membantu aktivitas (rumah) istrinya, dan bila waktu shalat telah tiba, beliau akan keluar (untuk menunaikan shalat)”. (HR Bukhari dalam Adab Mufrad: 538, shahih).

Ini merupakan salah satu potret pergaulan indah terhadap istri, yang apabila dikerjakan oleh sang suami setiap kali memiliki waktu luang, tentu akan semakin menumbuhkan rasa sakinah, mawaddah, wa rahmah. Sebaliknya sang istri juga hendaknya membantu pekerjaan suaminya atau minimal menenangkan sang suami dan melayaninya sebaik mungkin.

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam juga bersabda: “Seorang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik budi pekertinya, dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya”. (HR Tirmidzi: 1162, shahih).

Seorang istri bila taat dan bergaul dengan baik dengan suaminya, maka tentu akan meraih predikat wanita terbaik sebagaimana juga yang disebutkan dalam hadis: “Bila seorang wanita telah shalat lima waktu, berpuasa bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya, dan menaati suaminya, maka akan dikatakan padanya di akhirat kelak: “Masuklah kedalam surga dari pintu mana saja yang engkau kehendaki”. (HR Ahmad: 1661, dengan sanad hasan).

Bahkan akhlaqul-karimah ini wajib pula diwujudkan ketika bergaul dengan putra putri kita, sebab mereka paling berhak mendapatkan pergaulan yang baik, dan merasakan indahnya suasana keluarga dan rumah tangga yang mengayomi mereka. Kecupan kasih sayang, tutur kata yang lembut, dan arahan-arahan yang bijak semakin akan mengharmoniskan hubungan antara ortu dengan mereka, dan tentunya akan menghiasi suasana rumah serasa “surga”. Sikap-sikap seperti inilah yang selalu dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersama anak-anaknya sebagaimana dikisahkan oleh Aisyah radhiyallahu’anha: “Ketika Fathimah datang kepada Nabi, Nabi berdiri menyambutnya lalu mengambil tangannya kemudian menciumnya dan membawanya duduk di tempat duduk beliau, dan apabila Nabi datang kepada Fathimah, Fathimah berdiri menyambut beliau lalu mengambil tangan beliau kemudian menciumnya, setelah itu ia mempersilakan beliau duduk di tempatnya”. (HR Abu Daud: 8217, Tirmidzi: 4210, shahih).

Ketiga: Sabar dan Syukur Sebagai Perabot dan Hiasan Rumah Tangga
Bahagia dan sedih, senang dan susah, pasti akan datang silih berganti dalam kehidupan keluarga dan rumah tangga. Dari sinilah keteguhan seorang suami dan kesabaran seorang istri diuji oleh Allah Ta’ala. Bahkan sukses tidaknya atau bahagia tidaknya suatu rumah tangga diukur dari reaksi dan sikap mereka tatkala bahagia atau sedih. Suatu keluarga dianggap bahagia bila merealisasikan rasa syukur kepada Allah ta’ala dan merasa cukup / qana’ah atas setiap nikmat dan karunia yang dianugrahkanNya, serta menampakkan sikap sabar dan penuh tawakkal bila ada problem, bencana atau kesusahan yang menimpa mereka, sebab dua hal ini merupakan dua dari tiga pilar kebahagiaan yang ditetapkan oleh islam yaitu syukur, sabar dan taubat kepada Allah ta’ala. Hal ini ditegaskan oleh banyak ayat dan hadis, di antaranya: ”Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya baik baginya dan kebaikan itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Apabila dia mendapat kesenangan dia bersyukur dan itulah yang terbaik untuknya. Dan apabila mendapat musibah dia bersabar dan itulah yang terbaik untuknya.” (HR Muslim: 2999).

Problem rumah tangga tentunya begitu banyak, jenis dan beratnya pun beragam. Nah, seorang muslim yang hakiki harusnya bersikap dewasa dan tenang ketika menghadapi problem-problem ini, tanpa harus mengedepankan perasaan pribadi atau memprioritaskan sikap egoisme.
Dengan tiga poin ini keluarga dan rumah tangga akan terus terbina dalam suasana bahagia dan ceria, dan para anggotanya akan terus merasakan cinta dan kasih sayang dalam bingkai “Baiti Jannati: Rumahku Surgaku”, bukan hanya rumah fana yang kini ada, namun akan terus berlanjut hingga disurga ‘Adn, sebagaimana firman-Nya: “(yaitu) Surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya”. (QS Ar-Ra’d: 23).

Akhir kata, marilah banyak berdoa kepada Allah ta’ala agar selalu menjadikan keluarga dan rumah tangga kita semua dan setiap muslim sebagai rumah tangga yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Ya Rabb, masukkanlah kami ke dalam syurga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada kami dan masukkanlah pula orang tua kami, istri-istri kami, dan keturunan kami ke dalamnya. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Aamiin.

Sumber: Majalah SEDEKAH PLUS edisi 26 Tahun ke II

Minggu, 03 April 2016

Manhaj Syar’i dalam Berinteraksi dengan Perbedaan Pendapat Ulama

Pertanyaan: Kami mengharapkan yang mulia menjelaskan manhaj syar’i dalam berinteraksi dengan perbedaan pendapat para ulama.
Jawaban: الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد: Secara umum ada tiga hal yang hendaknya diperhatikan; Pertama, Menerima prinsip dan kenyataan adanya perbedaan pendapat diantara para ulama dalam masalah-masalah ijtihadiyah. Sebab hal ini termasuk perkara yang terjadi atas takdir dan idzin Allah. Artinya hal ini bukan sesuatu yang buruk dan tercela secara mutlak. Oleh karena itu wajib menjaga kehormatan para ulama serta tidak mencela dan menghina mereka.
Kedua, Tidak menerima suatu pendapat kecuali dari seseorang yang memiliki otoritas untuk berfatwa dan beraqidah ahlussunnah wal jama’ah serta dikenal kapasitas keilmuannya.
Ketiga, Wajib memilih pendapat yang lebih dekat kepada kebenaran tanpa ta’ashub, cara mengenali hal ini dengan dua; Bagi penuntut ilmu maka ia dapat melihat dalil masing-masing pendapat, lalu memilih pendapat yang dalilnya paling kuat, Bagi orang awam yang tidak tahu menimbang kekuatan dalil masing-masing pendapat, maka ia melihat siapa mufti yang menurut pandangannya lebih afdhal, berilmu, dan nampak komitmen beragamanya, serta tidak memilih suatu pendapat atas dasar kesenangan semata. Wallahu a’lam. (Syekh. DR. Khalid al-Majid//http://www.almoslim.net/node/60367) وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.
Sumber Tulisan: http://wahdah.or.id/manhaj-syari-dalam-berinteraksi-dengan-perbedaan-pendapat-ulama/

Sabtu, 31 Mei 2014

Kiat Bahagia #1: Beriman dan Beramal Shalih dengan Sebenarnya


Sarana yang paling agung yang merupakan sarana pokok dan dasar bagi tergapainya hidup bahagia ialah : beriman dan beramal shalih. Allah عزّوجلّ berfirman:
مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ
"Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih1, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan ia beriman, maka sesungguhnya akan Kami karuniakan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka lakukan." [QS. An-Nahl: 97]
Kepada orang yang memadukan antara iman dan amal shalih, Allah Taala memberitahukan dan menjanjikan kehidupan yang baik di dunia dan pahala yang baik di dunia dan akhirat.
Sebabnya jelas. Karena, orang-orang yang beriman kepada Allah عزّوجلّ dengan iman yang benar lagi membuahkan amal shalih yang mampu memperbaiki hati, akhlak, urusan duniawi dan ukhrawi, mereka memiliki prinsip-prinsip mendasar dalam menyambut datangnya kesenangan dan kegembiraan, ataupun datangnya keguncangan, kegundahan dan kesedihan.
Mereka menyambut segala hal yang menyenangkan dan menggembirakan dengan menerima, mensyukurinya dan mempergunakannya untuk seeuatu yang bermanfaat. Jika mereka menggunakannya demikian, maka niscaya hal itu akan melahirkan nilai-nilai agung di balik kegembiraan karenanya, pendambaan kelanggengan dan keberkahannya, dan keberharapan pahala seperti pahala yang diperoleh para hamba yang bersyukur. Nilai-nilai itu, dengan setumpuk buah dan keberkahannya, justru mengungguli wujud kegembiraan-kegembiraan itu, yang itupun bagian dari buahnya.
Mereka hadapi cobaan, mara bahaya, kegundahan dan kesedihan dengan melawan apa yang mungkin dilawannya, menepis sedikit apa yang mungkin ditepis, dan bersabar terhadap apa yang harus terjadi tidak boleh tidak. Dengan demikian, dibalik cobaan cobaan itu lahirlah nilai-nilai agung berupa sikap melawan yang penuh arti, pengalaman dan kekuatan serta kesabaran dan ketulusan untuk hanya berharap pahala Ilahi. Dengan meletakkannya nilai-nilai agung itu di hati, kecillah di mata mereka aneka cobaan berat. Sedangkan yang bersemayam di hati justeru kesenangan, cita-cita mulia dan dambaan untuk menggapai karunia dan pahala dari Allah عزّوجلّ.
Dalam hadits shahih, Rasulullah صلي الله عليه وسلم menggambarkan ini, beliau bersabda:
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ
“Sungguh mengagumkan perihal mumin. Semua hal yang dialaminya adalah baik. Jika ia mendapat hal yang menyenangkan, ia bersyukur. Maka hal itu menjadi suatu kebaikan baginya. Jika ia tertimpa hal yang menyakitkan, ia bersabar. Maka hal itu menjadi suatu kebaikan baginya. Sifat itu tidak dimiliki siapapun kecuali oleh seorang mumin”2
Rasulullah menerangkan bahwa keberuntungan, nilai kebaikan dan buah prilaku mumin berlipat ganda pada saat mengalami kesenangan ataupun cobaan. Oleh sebab itu, bisa jadi anda jumpai dua orang yang sama-sama mengalami ujian berupa keberuntungan dan bencana. Namun, antara satu dan yang lain berbeda jauh dalam menghadapi ujian itu, sesuai dengan kadar iman dan amal shalih yang ada pada diri masing-masing.
Orang yang beriman dan melakukan amal shalih menghadapi keberuntungan dengan rasa syukur dan sikap prilaku yang membuktikan kesungguhan syukur itu, dan menghadapi bencana dengan bersabar dan bersikap prilaku yang membuktikan kesungguhan kesabaran itu. Dengan demikian, hal itu dapat membuahkan di hatinya kesenangan kegembiraan dan hilangnya kegundahan, kesedihan, kegelisahan, kesempitan dada dan kesengsaraan hidup. Selanjutnya, kehidupan bahagia akan benar-benar menjadi realita baginya di dunia ini.
Sedangkan yang lain menghadapi kesenangan hidup dengan kcongkakan, kesombongan dan sikap melampui batas. Lalu, melencenglah moralnya. Ia menyambut kesenangan hidup seperti halnya binatang yang menyambut kesenangan dengan serakah dan rakus. Seiring itu, hatinya tidak tenteram. Bahkan, hatinya bercerai berai oleh berbagai hal. Hatinya bercerai-berai oleh kekhawatirannya terhadap sirnanya segala kesenangan dan banyaknya benturan-benturan yang pada umumnya, muncul sebagai dampaknya. Harinya bercerai berai tak menentu, karena memang hasrat jiwa tidak mau berhenti pada suatu batas. Bahkan, terus gandrung kepada keinginan-keinginan lain, yang kadangkala dapat terwujud dan kadangkala tidak dapat terwujud.
Andaikan di bayangkan dapat terwujud, ia pun tetap gelisah oleh hal-hal tadi. Ia pun menyambut cobaan yang sulit dengan rasa gelisah, keluh kesah, khawatir dan gusar. Tidak usah anda bertanya tentang dampak buruk dari itu semua, yang berupa kesengsaraan hidup, teridapnya penyakit jiwa maupun syaraf dan rasa kekhawatiran bercampur ketakutan yang bisa jadi, pada gilirannya akan menyeret ke kondisi yang paling buruk dan malapetaka yang paling mengerikan. Karena ia tidak mempunyai harapan pada pahala Ilahi dan tidak memiliki kesabaran yang mampu melipur hatinya dan meringankan beban yang dirasakannya.
Semua itu dapat dilihat melalui pengalaman.
Satu gambaran : Jika anda mengamati dan menilai keadaan orang pada umumnya dengan barometer iman dan amal shaleh, maka anda akan melihat perbedaan jauh antara orang mumin yang berbuat sesuai tuntunan imannya dan yang tidak demikian. Hal itu karena Islam sangat menganjurkan qanaah (menerima dengan penuh kerelaan) terhadap rezki dari Allah dan terhadap ragam karunia dan kemurahanNya yang diberikanNya kepada para hambaNya.
Orang mumin jika diuji dengan datangnya penyakit atau kefakiran atau semacamnya yang setiap orang bisa menjadi sasaran cobaan itu-, maka dengan iman dan jiwa qanaah serta ridha terhadap apa yang diberikan Allah عزّوجلّ kepadanya, anda dapati ia berhati sejuk dan bermata ceria, tidak menuntut sesuatu yang tidak ditakdirkan untuknya. Di segi materi, ia memandang kepada yang lebih rendah, tidak memandang kepada yang lebih atas. Bisa jadi, kegembiraan, kesenangan dan ketentraman batinnya melebihi orang yang meraih semua keinginan duniawi, jika orang itu tidak dikarunianya jiwa qanaah.
Kemudian, anda dapati orang yang tidak berbuat sesuai dengan tuntunan iman, jik ia diuji dengan sedikit kefakiran saja, atau tidak diperolehnya keinginan-keinginan duniawinya, maka anda dapati ia sangat hancur dan sengsara.
Gambaran lain : Jika terjadi pada seseorang hal-hal yang menakutkan dan ia tertimpa malapetaka dan bencana, maka orang yang benar imannya akan anda dapati ia berhati teguh, berjiwa tenteram lagi tegar menangani dan menyetir sesuatu yang menimpanya dengan pikiran, ucapan dan tindakan yang dimampuinya. Ia kukuhkan jiwanya untuk menghadapi bencana yang menimpa itu. Sikap semacam ini adalah sikap yang menentramkan dan mengukukuhkan hati seseorang.
Sebaliknya, orang yang tidak memiliki iman, jika terjadi peristiwa-peristiwa yang menakutkan, anda dapati ia guncang hatinya dalam menghadapinya, syaraf-syaraf tegang, dan pikirannya tercerai-berai. Rasa kekhawatiran dan ketakutan merasuk jiwanya. Rasa ketakutan dari ancaman luar dan seribu gejolak di dalam telah tertumpuk menyatu dalam dirinya, yang tidak mungkin digambarkan. Manusia semacam ini, jika tidak memiliki beberapa sarana terapi alami yang hal itu membutuhkan latihan banyak, maka ketahanan dirinya akan luluh dan syaraf-syarafnya pun akan tegang. Itu semua karena ia tidak memiliki iman yang dapat membawanya untuk bersabar, terutama dalam situasi sulit dan kondisi yang menyedihkan lagi mengguncang.
Orang baik dan orang jahat, orang mumin dan orang kafir adalah sama di sisi keberanian yang diperoleh melalui upaya atau latihan dan sisi naluri (insting) yang berfungsi melipur dan menurunkan volume rasa takut. Akan tetapi, orang mumin, dengan kekuatan imannya, kesabarannya, kepasrahan dan kebersandarannya kepada Allah serta keberharapannya pada pahalaNya, ia unggul dengan memiliki nilai-nilai lebih yang meningkatkan keberaniannya, meringankan tekanan rasa takutnya dan membuatnya memandang kecil segala kesulitan yang dihadapinya Allah عزّوجلّ berfirman.
إِن تَكُونُواْ تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمونَ وَتَرْجُونَ مِنَ اللّهِ مَا لاَ يَرْجُونَ
“Jika kamu menderita kesakitan, sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula) sebagaimana apa yang kamu derita. Sedangkan kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan”3 [QS. An-Nisaa: 104]
Para mummin di anugrahi maunah (pertolongan), maiyyah (rasa Kebersamaan) dan madad (bantuan) Allah عزّوجلّ yang khusus, yang dapat menyirnakan segala ketakutan.
Allah Taala berfirman.
وَاصْبِرُواْ إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Dan bersabarlah, sesungguhnya Allah bersama4 orang-orang yang bersabar” [QS. Al-Anfal: 46]

Disadur dari Buku 23 Kiat Hidup Bahagia 
Karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'dy -Rahimahullah-

Muslim Gaul, "Jadi Muslim Harus gaul"


Manusia diciptakan oleh Allah ta’ala berdampingngan satu dengan yang lainnya, saling bertetangga, dan berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari. Untuk menjalani hal ini, dibutuhkan suatu pemahaman yang baik agar kita mampu menjalani kehidupan tersebut dengan penuh hikmah. Islam, sekali lagi ada untuk memberikan solusi nyata dalam setiap tantangan hidup yang kita jalani. Islam dengan dua ikonnya, Al Quran dan Assunnah, telah memberikan penjelasan dan petunjuk yang sangat begitu gamblang dan menyeluruh perihal kehidupan manusia, termasuk didalamnya pembahasan tentang bagaimana berinteraksi dan bergaul dengan sesama manusia, lebih terkhusus dengan sesama muslim.

Akhlaq yang Baik
Modal utama yang harus kita miliki untuk menjadi muslim yang mampu bergaul dengan  hikmah adalah memiliki akhlaq yang baik. Karena akhlaq yang baik akan membuahkan sebuah  persatuan dan persaudaraan yang kokoh, sedangkan akhlaq yang buruk merupakan sumber perpecahan. Ketika kita mampu memiliki dan menerapkan akhlaq yang baik dalam bergaul, maka kecintaan Allah akan kita dapatkan, sebagaimana disebutkan dalam hadits qudsi, bahwa Allah berfirman,
“Kecintaan-Ku wajib bagi orang-orang yang saling mencintai karena Aku, kecintaan-Ku wajib bagi orang-orang yang saling membenci karena Aku, dan kecintaan-Ku wajib bagi orang-orang yang saling berkunjung karena Aku.” (HR. Al-Hakim)



Diantara keutamaan berakhlaq baik lainnya juga disabdakan oleh Rasulullah,
Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan mukmin pada Hari Kiamat selain dari akhlaq yang baik” (HR. Bukhari)

Adab Muslim Gaul
Berikut ini, beberapa hal yang menjadi panduan bagi kita untuk menjadi muslim gaul sesuai dengan syariat:
-Berwajah manis
 ‘Jangan sekali kati kamu menghinakan sesuatu yang baik dan kalaulah kamu bertemu saudaramu hendaklah dengan muka yang manis.’
(HR. Muslim)
-Mengucapkan Salam
 ‘Bahwa seorang lelaki telah bertanya kepada Rasulullah, “sesuatu hal apa yang baik dalam Islam?” Jawab Rasulullah, “Kamu memberi makan kepada orang yang memerlukannya dan mengucapkan salam keorang yang kamu kenal dan yang tidak kenal’ (HR. Bukhari Dan Muslim)
-Berjabat tangan (Mahram)
‘Sesungguhnya seorang muslim itu apabila bertemu saudaranya lalu bersalaman oleh kedua duanya, maka gugurlah dosa mereka sepertimana berguguran daun dari pokok yang kering ditiup angin kencang, melainkan kedua duanya diampunkan
segala dosa mercka walaupun banyak seperti buih di lautan.’(HR. Thabrani)

-Saling Menyayangi
‘Seseorang itu tidak beriman sehinggalah dia mengasihi terhadap saudaranya
sepertimana dia kasih terhadap dirinya sendiri’.(HR. Bukhari dan Muslim)
-Menepati Janji
‘Tanda orang munafik itu ada tiga perkara apabila bercakap dia berbohong, apabila berjanji dia mungkiri janji dan apabila dia diamanahkan dia
mengkhianati’. (HR. Bukhari Muslim)
-Tolong Menolong
‘Tolong-menolonglah kamu dalam perkara kebaikan dan ketaqwaan, dan jangan sekali kaii kamu memberi pertolongan di atas perkara kejahatan dosa yang membawa kepada perseteruan, dan takut olehmu akan Allah. Sesungguhnya Allah akan mengenakan seksaan yang amat dasyat.’ (QS. 5:2)
-Menahan Marah
Dan orang-orang yang sabar menahan diri dari marah serta orang yang memberi kemaafan terhadap orang lain. Sesungguhnya Allah mengasihi orang-orang yang suka membuat kebaikan.’ (QS 3:134).
Sekaranglah saatnya, kita tumbuh suburkan ukhuwah (persaudaraan) antara sesama muslim, dengan bergaul sesuai tuntunan Al Quran dan Assunnah.
(By: Abu Yusuf)